life is beautiful

Ketika saya tua nanti

23 Feb 2017 - 23:28 WIB

Suatu ketika saya pernah mengikuti sebuah kursus bahasa mandarin, dan guru saya pernah mengucapkan sebuah idiom yang menggelitik saya. Kira-kira begini isinya dalam Bahasa Indonesia “ketika muda kita mengorbankan kesehatan demi harta, dan sebaliknya ketika kita tua kita mengorbankan harta demi yang namanya sehat”

Ketika pertama kali mendengar, tak hanya saya, tetapi juga beberapa murid sempat tergelak mendengan ungkapan guru les saya itu. Tapi sepulang dari sesi belajar, saya teringat akan kata-kata itu dan merenungkannya. Rasanya tidak salah dengan kalimat dari beliau. Dan sejak merenungkannya kembali, saya memutuskan agar hidup saya kelak tak menjadi seperti idiom tadi.

Saya adalah orang yang sangat mencintai traveling, walau levelnya masih belum apa-apa jika dibandingkan para travelers yang sudah menjelajah nusantara sampai wisata mancanegara, tetapi saya dan istri saya selalu menyempatkan untuk bepergian ke tempat-tempat baru yang sama sekali belum kami kunjungi.

Dari begitu banyak hal yang saya nikmati ketika bepergian alias traveling, selain menikmati pemandangan alam dan pesona wisatanya, menyaksikan pasangan berumur yang bepergian selalu menarik perhatian saya dan istri. Tentunya tak hanya itu, pasangan-pasangan berumur, sebut saja opa-oma, yang saling bergandengan tangan dan saling memapah tubuh renta mereka selalu sukses menginspirasi saya dan istri agar kelak dapat mengikuti jejak mereka.

Saya masih ingat ketika di sebuah pantai di Lombok bagian selatan, ketika saya dan istri sedang asyik menikmati senja terbenam, kami menyaksikan sepasang bule yang rasanya sangat pantas dipanggil grandpa & grandma. Betapa romantisnya mereka menyebrangi benua dan samudra hanya untuk menikmati masa tua mereka dengan berpetualang berdua saja.

Kedua bule dari Jerman ini kalau dilihat dari fisiknya sih sudah berumur kurang lebih 60-70tahunan. Jelas, saya tidak berani menanyakan usia real mereka, karena setau saya menanyakan usia bagi mereka adalah sebuah hal yang tak sopan bukan? Hehe.

Kembali kepada kedua bule tadi, ketika saya dan istri akhirnya berkenalan dan bercakap-cakap dengan Bahasa Inggris yang ala kadarnya, kami akhirnya tau bahwa Juergen dan istrinya Esty memang meninggalkan anak dan cucu mereka di negaranya Jerman. Mereka sengaja menikmati quality time berdua dengan berpetualang ke beberapa negara Asia, sampai akhirnya tiba di Lombok, Indonesia. How Cool is that? :’)

 

Ah… saya pun menjadi iri setengah mati. Haha

Kata orang, bahagia itu sederhana. Bisa iya, bisa juga tidak.

Dan ukuran bahagia bagi setiap individu tentunya berbeda-beda.

Tetapi saya meyakini bahwa cita-cita saya kelak ketika saya tua, saya ingin seperti Juergen dan Esty. Menikmati masa tua dengan kelak menikmati hidup semaksimal mungkin. Keliling dunia bersama istri, menyaksikan keindahan ciptaanNya dan mensyukurinya. Pasti membuat kami berdua bahagia.

Caranya? Tentu saja tidak hanya sebatas mimpi, tetapi juga harus diusahakan dan direncanakan sejak dini.

**

Menabung tentulah menjadi cara pertama yang harus dilakukan. Selain menabung secara manual, saya dan istri sangat beruntung bekerja pada perusaahaan yang begitu peduli pada karyawan/tinya. Perusahaan kami mendukung karyawan/tinya dengan mendaftarkan semua tenaga kerja pada BPJS Ketenagakerjaan. Dan tak hanya itu, perusahaan mendukung dengan memberi subsidi iurannya. ASyik kan? Dan BPJS Ketenagakerjaan ini pun memberikan jaminan hari tua kami dari Iuran yang dibayarkan program jaminan pensiun yang dihitung sebesar 3%. Iuran ini terdiri atas 2% iuran perusahaan dan 1% iuran pekerja. Sangat ringan dan tentunya bermanfaat.

Ada “bonus” lainnya dari manfaat program pensiun juga seperti manfaat pensiun cacat, manfaat pensiun duda, manfaat pensiun anak, manfaat lumpsum dll.

Selain menabung dan terdaftar di BPJS, tentunya menjaga pola makan dan pola hidup. Ga lucu kan kalau akhirnya seperti apa yang dibilang oleh guru les saya di atas tadi. Udah punya modal jalan-jalan malah sakit. owalahhhh….

That’s why, saya mulai kembali menggalakkan olahraga teratur bersama istri. Jogging atau berlari menjadi ‘menu” olahraga yang harus dilakukan setidaknya 2-3 kali seminggu. Sesekali long-run pun dilakoni, demi menjaga stamina dan kesehatan.

Tak hanya olahraga, piknik pun harus dilakukan untuk menjaga kesehatan. Yeap, piknik sangat penting khususnya untuk pikiran alias kesehatan rohani. Kata teman saya “jarang piknik, bisa bikin gampang panik” dan “hidup makin asyik dengan piknik”. Haha…. keren juga kuot teman saya itu. Selain semua itu, berpikir positif selalu dan mendekatkan diri kepada sang pemilik hidup, saya percaya sangat membantu untuk menjaga hidup lebih beraura positif. Dan tak lupa nge-blog biar makin oke. :))

Nah, Itulah tadi beberapa persiapan menuju masa tua.

So, ketika tiba saatnya harus purna bakti dari tugas yang selama ini diemban, kami berdua tak perlu risau lagi untuk mewujudkan cita-cita kami yaitu berpetualang mengeksplore tempat-tempat indah di Indonesia dan di dunia.

source : here

Seperti kata Saint Augustine “The world is a book, and those who do not travel read only one page.” Demikianlah saya dan istri saya memimpikan hidup ketika tua kelak.

Berangkulan dengan istri sambil mengayuh gondola di venice, atau piknik di hadapan menara Eiffel? Ah… rasanya sangat mungkin diwujudkan nanti.

Aminn. :D

**

Btw, buat kalian yang belum terdaftar di BPJS ketenagakerjaan, bisa langsung daftar. Caranya gampang kok. Atau pengen cari tau gimana persyaratannya? Langsung aja cuss ke sini.

 

 


TAGS   bpjs ketenagakerjaan /