life is beautiful

(ternyata) mengajar itu seru

21 Feb 2015 - 10:06 WIB

Nyeritain hobi begerusuk (blusukan dalam bahasa sasak/lombok) di blog ini sih rasanya udah biasa ya.

Kali ini saya mau ceritain hobi baru saya, yaitu mengajar. :D

Jadi, satu setengah tahun terakhir ini, saya dan teman-teman di komunitas @Share_forCare punya project kecil-kecilan, yaitu membantu atau mencoba berkontribusi pada dunia pendidikan di pelosok lombok. Dan sebagai pilot project, SFC (Share for care) memilih 2 sekolah dasar yang berada di kab. lombok utara.

Dua sekolah itu adalah SD filial Semokan ruak yang berada di desa sukadana dan SD De Koning Segenter. Mengapa memilih kedua sekolah ini? Karena kami merasa kedua sekolah ini agak kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Sebenarnya ada begitu banyak sekolah yang mungkin lebih tidak terjangkau oleh pemerintah, tapi dengan beberapa pertimbangan kami memutuskan 2 sekolah ini akan menjadi project awal kami. Walau berjarak tempuh sekitar 2-2,5jam dari kota mataram, hal ini tidak menyurutkan semangat kami.

Awalnya kontribusi SFC adalah untuk membantu pembangunan dan perbaikan bangunan sekolah, pengadaaan alat bantu belajar mengajar (ex : seragam, buku, alat tulis, alat mengajar), namun seiring berjalan waktu, kami memutuskan untuk mengajak adik-adik di kedua sekolah itu belajar bahasa inggris dasar (Fun English Class) 2x dalam sebulan. Baksos di SD filial semokan ruak pernah saya ceritakan di sini

Dengan berkonsep “belajar sambil bermain”, dua minggu sekali, kami para volunteers menyambangi adik-adik di kedua sekolah itu. Nah dari situlah hobi ini berawal.

Saya bukanlah orang yang merasa mempunyai kemampuan mengajar yang baik. Bukan apa-apa, saya ini merasa cenderung sebagai orang yang kurang sabar. :D Sedangkan sebagai pengajar, sifat sabar adalah hal paling utama yang harus dimiliki. Tapi ungkapan “bisa karena biasa” sepertinya cocok untuk saya camkan dalam benak.

Karena keterbatasan volunteers, saya yang biasanya hanya kebagian tugas sebagai seksi transportasi (baca: supir :D ) akhirnya “harus” ikutan terjun sebagai pengajar (ecek-ecek) =))

Mulanya memang sangat canggung untuk berdiri di depan adik-adik ini. Tapi lama-kelamaan rasa asyik dan seru itu lebih menguasai.

Walau hanya belajar bahasa inggris dasar seperti ABC, 123, menghapal warna, buah atau hanya sekadar belajar bernyanyi “rain rain go away” dll tapi pengalaman baru ini benar-benar menyenangkan.

Menyaksikan wajah-wajah cilik nan antusias menantikan kedatangan kami para volunteers itu sungguh priceless sekali.

Karena konsepnya belajar sambil bermain, kami tak selalu belajar di dalam kelas, tak jarang kami memilih belajar di halaman sekolah, sesekali di ladang/padang rumput. Malahan untuk di Semokan ruak kami lebih sering belajar di tengah hutan. Selain lebih mendekatkan diri dengan alam, kami harus mengurangi waktu perjalanan. Seharusnya untuk sampai di sekolah SD filial semokan ruak, kami membutuhkan waktu 2,5 jam berkendara ditambah berjalan kaki 45 menit. Namun jika di hutan, murid-murid yang turun ke hutan dan mereka menunggu kami di sana.

de7e94d660d7ad41317f6167efabcadf_10341983_10202411367605113_3006522325951891491_n

b58b111a77223c23de90493b5a57b876_1947805_800652009971618_8165154295370561068_n

7edc2a07546748b115282d0d3da758c6_10957997_10202417200470931_8144592125402582411_n*photo by : yuyun,nuke,sfc’s crew

Sebagai info, kedua sekolah itu sangat minim guru pengajar resmi dan tak ada guru bahasa inggris sama sekali. guru-guru hebat nan berdedikasi ini “hidup dari dana BOS pemerintah yang cairnya 3 bulan sekali dan itu nilainya sangat minim. Tanpa gaji lhoo….Miris memang. Namun itulah gambaran nyata dunia pendidikan kita. :(

Saya jadi teringat kata-kata bijak yang pernah saya baca “dari pada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin”. So, dari pada cuma memaki kebijakan dan peran pemerintah mendingan “menyalakan lilin” yang kecil tapi sedikit banyak cukup membantu menerangi sekitar. Sok wise, yes? he he…

Balik lagi ke mengajar, ternyata ini membuat saya mengerti ini tak hanya soal mengajar, tetapi membuat kami para volunteers belajar. Belajar cara mengajar, belajar meng-improve english skill kami yang pas-pasan, belajar sabar menghadapi murid-murid yang kritis sesekali nakal (jadi sadar betapa hebatnya guru-guru kami dulu kok bisa menghadapi kenakalan dan kebodohan kami ya. haha), belajar berbagi, belajar mensyukuri hidup (membandingkan betapa beruntungnya kita dengan kemudahan mendapatkan pendidikan dibandingkan dengan adik-adik di segenter dan semokan ruak) dan banyak lagi refleksi yang bisa dilakukan.

Ternyata mengajar (dan berbagi) itu seru :D

***
note : Yang pengen ikutan volunteering atau donasi untuk mendukung kegiatan Share For Care memajukan dunia pendidikan di pelosok Lombok bisa langsung cek blog mereka di www.shareforcar3.blogspot.com

karena berbagi takkan pernah rugi :)


TAGS