life is beautiful

Trekking to Rinjani, The unforgettable moments (part 2)

16 Oct 2014 - 08:27 WIB

postingan ini adalah lanjutan dari postingan kemarin.

***

Setiba di pelawangan sembalun, kami mencari mas poan dan mas khrisna.

Ternyata mereka sudah tiba sejak tadi dan sedang memasak bahan-bahan untuk makan siang. Sambil bersantai di bawah pohon pinus kami menikmati sodoran sebotol air minum berisi air segar yang diambil oleh mas khrisna dari sumber mata air tak jauh dari posisi kami beristirahat. Sungguh memuaskan dahaga kami. Sementara Di hadapan kami terbentang tenda-tenda berjejer dan mayoritas diisi oleh para bule. Dan dengan sedikit mendongak keatas maka nampaklah puncak rinjani yang berada di 3726 meter di atas permukaan laut itu.

Target perjalanan kami kali ini memang tidak summit alias ke puncak. Cukup ke danau saja. Mengingat kami adalah pendaki pemula dengan fisik pas-pasan, sedangkan untuk summit ke puncak, biasanya pendaki berjalan pada dini hari selama 3-4 jam. Some other time, maybe :D.

Pelawangan Sembalun sendiri berada di ketinggian 2639 meter di atas permukaaan laut.

life is beautiful

*leyeh-leyeh menatap puncak rinjani*

Oh iya, kami sempat mewawancarai beberapa bule dan menodong mereka untuk berpose dengan kertas print yang telah kami siapkan sebelumnya :D

with bule

*bule aja tau kalo Lombok is beautiful*

Makan siang pun siap disantap. Cuaca dingin dan pendakian tadi benar-benar membuat kami kelaparan. Maka, tak butuh waktu lama untuk menghabiskan makan siang kami kali ini. Sekitar jam 1 kami melanjutkan perjalanan menuju danau segara anak. Menurut info yang kami dapatkan Estimasi waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam untuk turun sampai ke danau. Cuss!! Sepanjang perjalanan menuju danau, kabut menyelimuti perjalanan kami. Jarak pandang tak lebih dari 10 meter. Rasanya seru, dingin, (mungkin) kayak lagi di eropa gitu deh :)) Suguhan pemandangan sepanjang menuju danau membuat kami terpukau. Bunga edelweis nan cantik dimana-mana. Kabut tak sedikitpun mengurangi keindahan bunga yang konon disebut bunga keabadian ini. Jalurnya sendiri tak terlalu berat karena kami tak perlu mendaki, hanya saja kehati-hatian sangat dibutuhkan karena di banyak lokasi kita harus menuruni bebatuan yang cukup berbahaya jika tak waspada.

edelweis

*di kebun edelweis*

Selain bunga edelweis, beberapa kali kami melewati bekas pepohonan pinus yang habis terbakar beberapa waktu lalu. Agak sedih sih, tapi namanya juga kehendak alam yang tak bisa dicegah.

a walk to remember

*sesaat sebelum tiba di danau*

Kami tiba di danau pukul 5 sore. Ternyata bagi kami yang pendaki gunung karbitan ini butuh waktu 4 jam dari pelawangan sembalun ke danau segara anak. Bergetar rasanya tubuh saya. Lagi-lagi keharuan menyelimuti perasaan. Ga nyangka, selama ini liat di poto or tv, eh sekarang danau indah itu terhampar di depan mata saya sendiri.

Amazing God!

***

Seperti biasa, mas poan dan khrisna sudah mendirikan tenda untuk kami. Lokasinya di sisi danau.

Sempurna! perfetto

*tenda di sisi danau*

Saya dan istri kemudian menaruh semua barang di dalam tenda dan langsung menuju danau untuk menginjakkan kaki ke air danau yang bening namun super dinginnnn itu. brrrrr…. :D

Tujuan kami selanjutnya adalah aiq kalak. Aiq kalak adalah mata air panas alami yang muncul di sela-sela tebing tak jauh dari danau segara anak. Dengan tuntunan arah dari mas khrisna kurang lebih berjalan 15 menit kami pun tiba di aiq kalak. Luar biasa, setelah letih berjalan seharian, mandi air panas alami ber-belerang adalah satu-satunya hal yang saya inginkan sore itu. Walau hari mulai malam dan sekeliling kami mulai gelap, kami tak mempedulikannya. Berendam dan membasuh badan dengan air panas ber-belerang benar-benar terapi lelah ternikmat yang pernah saya alami. haha. Badan pun terasa ringan dan bersih, maklum aja udah ngga mandi dari kemarin pagi :D

Setelah puas mandi, kami kembali ke tenda dan rupanya mas poan sudah menyiapkan kare sebagai menu makan malam kami. Ahh nikmatnya!

Malampun bergulir dan kami menikmati keheningan malam itu dengan beristirahat

***

- D a y I I I-

Jam 6-an pagi alarm hape berbunyi membangunkan kami dari tidur

Walau badan rasanya masih ingin istirahat, tetapi saya sudah bertekad ingin menjelajahi paling tidak sedikit saja dari sudut-sudut danau. Dengan melangkahkan kaki dan mengalahkan kantuk saya keluar sendiri dengan kamera di tangan. Saya menyusuri sisi danau untuk menikmati keindahan danau segara anak.

indah bukan?

*di tengah padang ilalang*

Di hadapan saya nampak pemandangan yang sungguh luar biasa indahnya.

me, segara anak and my self

*back-selfie menatap gunung baru jari*

Perbukitan yang mengepung danau, sementara di tengah danau nampak gunung baru jari yang kemarin sore kurang begitu jelas kami saksikan. Gunung baru jari ini adalah anak gunung rinjani yang tumbuh dari hasil erupsi gunung rinjani beberapa puluh tahun yang lalu. Menyaksikan gunung baru jari ini saya teringat ketika beberapa tahun yang lalu mendaki anak gunung krakatau. (catatannya ada disini )

Klak klik klak klik…. kamera beraksi. :D

Rasa dingin pagi itu tak saya hiraukan, bahkan saya sempat “menantang dingin” dengan berpose topless di hadapan gunung baru jari. :))

Pagi itu kami masih sempat mandi sekali lagi di aiq kalak. Kalau kemarin sore kami masih berbagi tempat mandi dengan beberapa pendaki lainnya, maka pagi ini hanya kami berdua yang ada di aiq kalak. Rasanya seperti pemandian pribadi buat saya dan istri. hihih.. Kelar mandi, kami kembali ke tenda dan berkemas-kemas.

Target hari ini adalah bermalam dan nge-camp di pelawangan senaru. Sebelum berangkat saya dan istri memuaskan dahaga narsis kami di sisi danau dengan selfie juga dengan printing papers dan bendera yang kami bawa dari rumah. Narsis time! :D

narsis!

*the castles*

10.45 kami berangkat menuju pelawangan senaru.

***

bersambung ke part 3 —> klik disini


TAGS   gunung rinjani / rinjani trekking / Taman nasional gunung rinjani / danau segara anak / segara anak lake / trekking murah ke rinjani / gunung baru jari / sembalun / senaru / pelawangan senaru / pelawangan sembalun /