life is beautiful

festival bau nyale

16 Feb 2009 - 11:00 WIB

setelah hampir beberapa lama aku ngga berpetualang dan berburu pantai, akhirnya tepat waktu 14 februari kemarin aku kembali berpetualang. Yups tepat pada hari valentine. Berhubung si doi jauh, so kali ini Valentine’s day tidak disibukkan dengan berkencan tetapi diisi dengan berpetualang.

Bisa dibilang Petualangan kali ini sedikit berhubungan dengan kasih sayang karena legendanya. Kali ini aku mengikuti festival “bau nyale”. Festival “Bau Nyale” adalah festival setahun sekali yang diadakan dinas pariwisata di Pantai Kuta Lombok. Untuk yang belum tau Pantai Kuta bisa dilihat disini. Kali ini dipusatkan di pantai Seger.

Bau nyale sendiri dalam bahasa sasak berarti bisa nyala. (Bau=bisa, nyale=menyala). Sedangkan yang dimaksud dengan sesuatu yang bisa menyala tadi adalah cacing laut. Ya, kira-kira setiap bulan Februari atau Maret, cacing-cacing laut ini akan keluar di daerah pantai Kuta. Dan cacing-cacing ini keluar antara tengah malam hingga pagi hari ketika pesisir laut mulai surut. Cacing-cacing ini berwarna-warni diantaranya hijau, coklat, oranye, dan merah. Dan warna-warni tersebut akan terlihat seperti menyala ketika sinar bulan jatuh dan memantul pada cacing tersebut. Itulah Sebabnya mengapa disebut bau nyale.

Legendanya sendiri kira-kira seperti ini. Dulu kala, terdapat seorang putri nan cantik jelita bernama Putri Mandalika. Saking mempesonanya, banyak pria yang menyatakan cintanya dan berniat untuk memilikinya. Bahkan karena banyaknya pria yang memperebutkan hati sang putri, seringkali terdapat bentrok dan perkelahian. Karena Putri Mandalika tidak ingin terjadi pertumpahan darah maka Putri tersebut memilih langkah yang tidak masuk akal. Sang putri memilih untuk melompat menceburkan diri kedalam laut (bunuh diri),ditelan gelombang dan tak kembali. Nahh…Masyarakat lokal percaya Cacing tersebut adalah perwujudan kemunculan dari Sang Putri dalam bentuk lain. Sejak itu setiap tahun dirayakanlah Bau Nyale. Untuk kisah asal-usul Bau Nyale lebih lengkap dapat dibaca disini.

Back to my journey…

Dari Mataram, dengan menggunakan 3 motor kami berlima (Me, Surya, Pak dodi, Pak Zen dan istrinya) memutuskan untuk berangkat jam 19.00Wita. Sempat mampir untuk membeli jajanan, kemudian kami tiba di Praya, Pusat kota Lombok Tengah sekitar pukul 20.00 untuk makan malam. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan kembali. Normalnya sekitar setengah jam kami harusnya telah sampai di daerah Pantai Kuta. Namun karena banyaknya masyarakat yang antusias dan berbondong-bondong ingin menyaksikan peristiwa setahun sekali ini membuat perjalanan menjadi sedikit macet. Belum lagi Ketika hampir mencapai Kuta, kami harus menepi dan berhenti karena iring-iringan Gubernur NTB dan jajaran pejabat yang lewat.

Akhirnya kami dapat memasuki pintu masuk Kuta sekitar jam 22.00wita.
Dengan jumlah motor yang mungkin mencapai seribuan dan mobil yang telah bejubel maka terjadilah kemacetan yang parah. Bahkan untuk sampai mendapat parkir kami membutuhkan waktu hampir 4 jam. Dan itu pun kami harus menikmati hujan ditengah malam dan ditengah kemacetan. Ternyata para pengunjung telah memadati lokasi sejak dari sore tadi. Karena selain acara bau nyale sendiri, diadakan juga acara lain diantaranya adalah perisaian (acara tarung ala gladiator). Setelah mendapat parkir kami memutuskan untuk mencari pusat acara. Terus terang, buat aku (yang telah 7 thn lebih di Lombok), Surya dan Pak dodi (yang telah hampir setahun tinggal di Lombok) ini adalah pengalaman kami yang pertama. Sedangkan buat pasangan Pak Zen dan istrinya yang asli Lombok acara ini adalah seperti ritual tahunan yang wajib dirayakan.

Ketika kami mencari parkir kami sempat terpisah dengan Pak zen dan istrinya. Lautan manusia dan kendaraan membuat kami sulit untuk berkumpul. Belum lagi gangguan operator selular yang menyulitkan kami menghubunginya. AKhirnya kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan berputar-putar mencari pusat acar tersebut. Oh iya, di pantai seger ini terdapat bukit-bukit kecil yang menjulang dipesisir pantainya. Dan menariknya, para pengunjung banyak yang memutuskan untuk menikmati suasana dari atas bukit. Walaupun sedikit curam namun bukit telah pula dipadati para pengunjung. Tidak sedikit juga yang membawa tenda dan tikar layaknya piknik. Namun kali ini piknik dipuncak bukit. Tengah malam pula :D Dari pengamatan kami, para pengunjung ga cuma dari Lombok. Malang, Semarang, Jakarta sampai turis-turis mancanegara pun ikut menjadi pengunjung.

Kami pun ikut-ikutan menaiki bukit tersebut dan ternyata dibalik bukit tempat kami parkir tadi, disanalah pusat acara diadakan. Terdapat beberapa tenda untuk undangan dan Panggung dimana acara tari-tarian dan drama berlangsung. Setelah sedikit “mengintip” acara di panggung dari kejauhan kami memilih untuk nongkrong di puncak bukit sambil menikmati angin (hujan telah berhenti) sepoi-sepoi dan sinar bulan plus jajanan yang kami bawa. Wat a nite!! :)

Ternyata jajanan yang kami bawa tidak cukup memuaskan kami. Kami mulai mencari alternatif pengisi perut, dan sepertinya mie kuah panas adalah satu2nya jawaban. Turun dari bukit, kami mulai menyusuri warung-warung tenda yang berjejer disepanjang jalan untuk mencari penjual mie instant. Sialll, ternyata dari puluhan warung tersebut tak ada yang menjual mie rebus. Yang ada hanya mie seduh (popmie). Ya sudah dari pada tak ada, akhirnya mie seduh yang (agak) hangat pun menjadi pilihan terakhir.

Dengan popmie ditangan kami mencari spot yang sedikit nyaman dan kami menemukannya. Diatas pasir putih pantai seger kami beralaskan jas hujan parasit kami duduk menikmati mie kami menghadap laut lepas dan panorama pantai yang hanya disinari bulan setengah. Di sebelah kiri kami anak-anak muda mulai bernyanyi dengan iringan gitarnya. Hmmm…Suasana yang sungguh indah. Setelah kenyang, kami bertiga berbaring beratapkan langit dan bulan tepat didepan kami. Sungguh indah CiptaanNya. Tak terasa jam sudah pukul 04.00wita. Mataku mulai terasa berat dan keletihan menyerang. Untuk pertamakali dalam hidupku, aku tidur di pantai. :D

Jam 05.00 Wita ketika sinar bulan mulai hilang, dan air laut mulai surut, para pengunjung mulai berburu cacing “nyale”. Dengan “senjata” yang mereka bawa mereka mulai turun ke pantai. Serokan, Jaring, Ember sampai panci di tangan maka dimulailah perburuan. Satu hal yang sedikit aneh dan lucu adalah ketika perburuan dimulai, Orang-orang mulai berteriak-teriak dan misuh-misuh alias menyumpah-numpah dengan kata-kata kotor. Kata temanku itu sudah tradisi. Hahahhah tradisi yang aneh :D

Ga nunggu lama, dalam sekejap pesisir pantai pun benar-benar dipadati oleh orang-orang yang sedang menangkap cacing “nyale” yang berwarna-warni tersebut.

dsc00642

dsc00640dsc00644image017dsc00643

biasanya cacing-cacing tersebut oleh masyarakat lokal untuk dikonsumsi. Yaitu dengan dipepes, dibersihkan lalu dimasukkan ke daun kelapa yang kemudian dibakar menjadi pepes. Kami sendiri belum berani mencoba untuk memakannya walaupun aku pernah baca artikel para ahli mengenai cacing ini yang mengandung banyak protein. Satu hal unik terjadi ketika kami mencoba membawa beberapa cacing tersebut ke Mataram untuk kami tunjukkan ke teman-teman kami. walaupun kami bungkus dengan plastik dan memberikan rongga udara, ketika kami tiba di Mataram ternyata warna-warni cacing tadi seperti luntur. Kembali coklat seperti cacing tanah biasa.

Anyway, its a great experience and fun. Blast weekend!!! :)


TAGS   Kuta Lombok / festival bau nyale / bau nyale / putri mandalika /